Dalam industri manufaktur, efisiensi dan produktivitas menjadi fondasi utama dalam menjaga daya saing perusahaan. PT SKF Indonesia, sebagai produsen bearing kendaraan bermotor, menghadapi tantangan dalam memenuhi target produksi akibat tingginya cycle time di beberapa proses, serta masih ditemukannya aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan meningkatkan produktivitas pada proses produksi bearing tipe BAH-0286 di channel 16 menggunakan pendekatan Lean Manufacturing dengan metode Value Stream Mapping (VSM). Penelitian dimulai dengan observasi langsung, wawancara, dan pengumpulan data cycle time selama satu tahun. Melalui pemetaan Current State Map, ditemukan beberapa mesin memiliki waktu proses yang melebihi takt time sebesar 17,8 detik. Mesin seperti Auto IR Sorting dan Manual IR Bore Check menjadi penyumbang utama bottleneck dalam alur produksi. Klasifikasi aktivitas menunjukkan masih terdapat aktivitas Non-Value Added (NVA) dan Necessary but Non-Value Added (NNVA) yang perlu diminimalkan untuk mempercepat aliran proses. Analisis lanjutan menggunakan metode Fishbone Diagram, 5W+1H, dan pendekatan 3M (Muda, Mura, Muri) mengungkap bahwa faktor manusia, mesin, metode kerja, dan material turut berkontribusi terhadap ketidakefisienan proses. Kurangnya pelatihan, SOP yang tidak konsisten, serta kualitas material yang tidak seragam menjadi penyebab utama penurunan performa. Sebagai solusi, peneliti merancang Future State Map yang menekan waktu proses dan mengurangi aktivitas tidak bernilai tambah. Hasil simulasi menunjukkan bahwa lead time berhasil diturunkan dari 225,61 detik menjadi 193,23 detik, atau mengalami peningkatan efisiensi sebesar 14,35%. Hal ini membuktikan bahwa penerapan VSM secara sistematis mampu mengidentifikasi pemborosan secara menyeluruh dan membantu perusahaan merancang perbaikan yang terukur dan berkelanjutan. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi dalam bentuk efisiensi waktu dan peningkatan output, tetapi juga menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis data mampu menciptakan sistem produksi yang lebih adaptif dan kompetitif dalam menghadapi tuntutan industri yang dinamis.