Di CV. Mandiri Utama. Tingginya frekuensi kerusakan pada mesin giling kedelai MGKB-30 di CV. Mandiri Utama berdampak negatif terhadap kelancaran proses produksi, menurunkan kualitas output, dan meningkatkan downtime. Permasalahan ini terjadi akibat belum diterapkannya sistem penjadwalan perawatan yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk merancang jadwal perawatan mesin secara optimal dengan pendekatan Reliability Centered Maintenance (RCM). Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method, dengan data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi langsung, serta data sekunder dari catatan downtime dan riwayat kerusakan mesin. Analisis dilakukan melalui identifikasi komponen kritis menggunakan diagram Pareto, evaluasi mode kegagalan menggunakan metode FMEA, serta perhitungan nilai MTTF dan MTTR berdasarkan distribusi statistik dengan bantuan software Minitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen motor penggerak dan pengatur kehalusan merupakan komponen paling kritis yang berpotensi menimbulkan gangguan signifikan. Usulan strategi perawatan berupa scheduled restoration task pada motor penggerak dengan interval 107 jam dan scheduled discard task pada pengatur kehalusan dengan interval 158 jam. Nilai MTTF untuk motor penggerak adalah 486 jam dan pengatur kehalusan 7.024 jam, sedangkan nilai MTTR masing-masing sebesar 2,52 jam dan 2,12 jam. MTBF menunjukkan kerusakan motor terjadi setiap 488,52 jam dan pengatur kehalusan setiap 7.026,12 jam. Implementasi preventive maintenance berbasis RCM memberikan efisiensi biaya, yakni menurunkan biaya perawatan motor penggerak dari Rp1.282.920 menjadi Rp1.041.000 (hemat 18,83%) dan pengatur kehalusan dari Rp990.192 menjadi Rp786.230 (hemat 20,61%).