Studi ini menganalisis penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) pada proses pengemasan snack di PT. XYZ, dengan fokus pada permasalahan kualitas dan keamanan pangan. Tingkat defect produk mencapai 6,8% hingga 8,6%, jauh melampaui standar perusahaan 3%. Kondisi ini mengindikasikan ketidaksesuaian dengan standar GMP dan kurangnya kendali mutu yang efektif. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi penyimpangan GMP, menentukan prioritas risiko mode kegagalan melalui Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), serta merumuskan rekomendasi perbaikan. Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi, selanjutnya dianalisis dengan FMEA. Hasil penelitian mengidentifikasi mode kegagalan paling kritis dengan Risk Priority Number (RPN) tertinggi, yaitu kemasan rusak dan kemasan bocor, keduanya mencapai RPN 504. Mode kegagalan signifikan lainnya mencakup hasil sealing tidak rapi (RPN 441), kontaminasi oleh operator (RPN 336), dan partikel asing dalam kemasan (RPN 270). Rekomendasi perbaikan yang diusulkan meliputi: pelatihan SOP penanganan produk, penggunaan tray atau box pelindung, inspeksi visual dan uji kebocoran berkala, peningkatan kualitas material kemasan, kalibrasi dan perawatan mesin sealer, serta audit higiene rutin. Dengan implementasi rekomendasi ini, diharapkan PT. XYZ dapat meningkatkan efektivitas pengendalian kualitas, menjamin keamanan pangan, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas serta daya saing produk snack mereka.