Penelitian ini di latar belakangi oleh rendahnya kepatuhan berlalu lintas terhadap program ETLE di Kota Pare-Pare. Tujuan penelitian menganalisis bagaimana karakteristik nilai budaya Bugis Makassar dalam membentuk resistensi diam, respon dan pemahaman masyarakat terhadap program ETLE serta strategi komunikasi program ETLE yang telah dilaksanakan oleh Sat Lantas Polres Pare- Pare. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Teori yang digunakan Elaboration Likelihood Model (ELM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik nilai budaya lokal (Siri’, Sipakatau, dan Sipakainge’) berperan ganda dalam mendorong kepatuhan sekaligus resistensi diam terhadap program ETLE dan pendekatan dilakukan melalui jalur periferal. Pemahaman masyarakat terhadap program ini bervariasi, di pengaruhi oleh karakteristik nilai budaya yang emosional. Strategi komunikasi yang diterapkan menggunakan dua metode yaitu sosialisasi dan teguran langsung di lapangan dengan pendekatan yang bersifat situasional sesuai karakteristik nilai budaya lokal.