Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala ruangan menerapkan berbagai gaya komunikasi secara situasional, antara lain gaya komunikasi terstruktur, mengontrol, dinamis, kesetaraan, dan pemberian wewenang. Gaya komunikasi terstruktur dan asertif paling dominan digunakan dalam penyampaian instruksi sebelum, saat, dan setelah tindakan operasi, sehingga membantu perawat memahami tugas secara jelas serta meningkatkan koordinasi kerja tim. Di sisi lain, penerapan gaya komunikasi kesetaraan dan pemberian wewenang berperan dalam menciptakan hubungan kerja yang harmonis, mendorong partisipasi perawat, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam pelaksanaan tugas. Secara keseluruhan, gaya komunikasi yang diterapkan kepala ruangan terbukti mendukung kinerja perawat dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit.