Penelitian ini berangkat dari fenomena people pleaser di lingkungan kerja, khususnya pada barista yang dituntut untuk menjaga keharmonisan dengan rekan kerja maupun atasan. Individu dengan kecenderungan people pleaser cenderung menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri, sehingga menarik untuk diteliti bagaimana mereka memanfaatkan komunikasi interpersonal dalam menghadapi konflik di tempat kerja. Konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori komunikasi interpersonal menurut Joseph A. DeVito yang mencakup lima dimensi utama, yaitu: keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal berperan penting sebagai mekanisme adaptasi sosial bagi barista people pleaser dalam menghadapi konflik. Mereka cenderung menunjukkan keterbukaan yang selektif, empati yang tinggi, dan sikap mendukung terhadap rekan kerja, disertai upaya menjaga sikap positif di tengah tekanan pekerjaan. Konflik yang muncul, baik dengan rekan kerja maupun atasan, umumnya diselesaikan melalui kompromi dan kolaborasi. Namun, perilaku tersebut sering kali membuat mereka menekan perasaan pribadi dan menanggung beban emosional karena sulit menolak atau menegaskan pendapat. Komunikasi interpersonal menjadi sarana utama bagi barista people pleaser untuk menjaga keharmonisan dan meredakan konflik di lingkungan kerja. Meskipun strategi komunikasi yang mereka gunakan berhasil menciptakan suasana kerja yang kondusif, kecenderungan untuk menghindari konflik secara terbuka justru dapat menghambat penyelesaian masalah secara tuntas.