Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cara penggemar Band Hindia memahami isu satanisme yang terhubung dengan performa panggung Band Hindia. Masalah tersebut muncul di ruang publik disebabkan oleh pemakaian simbol visual dan suasana pertunjukan yang dianggap kontroversial. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode wawancara mendalam dengan penggemar Hindia yang memahami topik tersebut. Analisis data dilaksanakan melalui langkah- langkah pengurangan, penyampaian, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini mengaplikasikan teori resepsi audiens oleh Stuart Hall sebagai dasar analisis, terutama konsep encoding–decoding serta posisi resepsi audiens. Temuan studi menunjukkan bahwa penggemar memahami penampilan dan simbol visual Hindia dengan cara yang beragam dan kontekstual. Isu satanisme dipahami sebagai konsekuensi dari perbedaan sudut pandang antara penggemar dan masyarakat luas. Penggemar sering kali berada dalam posisi bernegosiasi dengan memahami penampilan sebagai bentuk seni, serta dapat membedakan antara keyakinan individu dan konsumsi karya seni. Penemuan ini menegaskan bahwa penggemar berfungsi sebagai audiens yang aktif dalam proses interpretasi pesan visual.