Film tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai medium representasi yang mengonstruksi realitas sosial, termasuk pandangan terhadap penyandang disabilitas. Penelitian ini membahas representasi dukungan keluarga terhadap tokoh penyandang disabilitas netra dalam film My Annoying Brother (2024). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana dukungan keluarga ditampilkan melalui elemen naratif dan visual, serta bagaimana makna tersebut dikonstruksi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes yang mengkaji makna melalui tiga tahapan: denotasi, konotasi, dan mitos. Unit analisis terdiri dari sepuluh scene terpilih yang memperlihatkan interaksi antara tokoh utama Kemal (adik penyandang disabilitas netra) dan Jaya (kakak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan empat dimensi dukungan keluarga. Pertama, dukungan emosional yang terwujud melalui kehadiran, kesediaan mendengarkan, dan validasi perasaan. Kedua, dukungan instrumental berupa bantuan fisik, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Ketiga, dukungan informasional melalui instruksi verbal dan nasihat hidup untuk navigasi mandiri. Keempat, dukungan penilaian berupa pemberian motivasi dan pengakuan untuk membangun kembali kepercayaan diri. Secara mitologis, film ini mengonstruksi pesan bahwa tanggung jawab dan kasih sayang keluarga merupakan fondasi utama bagi penyandang disabilitas untuk bangkit dari trauma dan mencapai kemandirian.