Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses dan pola komunikasi keluarga dalam tahap prasekolah anak tunagrahita di SLB B dan C Kristen Ephphatha Indonesia. Latar belakang penelitian didasari oleh pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam mendukung perkembangan kemampuan komunikasi anak tunagrahita pada fase prasekolah. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi keluarga serta Family Communication Patterns Theory yang dikemukakan oleh Koerner dan Fitzpatrick sebagai landasan teoritis. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif dua keluarga yang memiliki anak tunagrahita pada tahap prasekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap keluarga yang memiliki anak tunagrahita pada tahap prasekolah. Analisis data dilakukan melalui tahapan epoche, reduction, imaginative variation, dan synthesis of meanings and essences. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi keluarga berlangsung secara bertahap, sirkular, dan berkelanjutan dalam aktivitas sehari- hari, dengan ibu sebagai figur yang paling dominan, didukung oleh peran ayah dan kakak. Proses komunikasi tersebut membentuk pola komunikasi keluarga yang bersifat konsensual, ditandai dengan keterbukaan, keterlibatan anak, serta kendali orang tua dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi keluarga yang hangat, sabar, dan adaptif berperan penting dalam mendukung perkembangan kemampuan komunikasi anak tunagrahita pada tahap prasekolah.