Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana film dokumenter The Scavengers: Kisah Para Pemulung di Bantargebang membangun wacana mengenai kehidupan pemulung serta merepresentasikan kritik terhadap kebijakan pengelolaan sampah dan perlindungan pekerja sektor informal di Indonesia. Pemulung kerap diposisikan sebagai kelompok marjinal dalam struktur sosial, meskipun memiliki peran penting dalam sistem pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular. Film dokumenter sebagai media komunikasi massa memiliki kekuatan dalam membentuk pemahaman publik melalui narasi visual dan verbal yang sarat makna ideologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi analisis, yaitu dimensi teks (mikro), praktik diskursif (meso), dan praktik sosiokultural (makro). Data penelitian diperoleh melalui observasi terhadap adegan, dialog, narasi visual, serta konteks produksi dan distribusi film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film The Scavengers membangun wacana pemulung sebagai pekerja sektor informal yang hidup dalam keterbatasan struktural namun memiliki kontribusi vital dalam pengelolaan sampah. Penelitian pada film ini juga berfungsi sebagai wacana tandingan terhadap narasi dominan yang cenderung meminggirkan pemulung dalam kebijakan formal, dengan menampilkan kritik terhadap absennya perlindungan sosial dan pengakuan negara.