Logo HUT ke-80 Republik Indonesia memicu perdebatan luas di ruang digital, salah satunya di grup Facebook Keluh Kesah Ngampus (KKN). Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa simbol negara tidak selalu dimaknai secara seragam oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana resepsi anggota grup KKN terhadap logo HUT ke-80 RI serta faktor-faktor yang memengaruhi proses pemaknaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi berdasarkan teori Encoding–Decoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi anggota grup terbagi ke dalam tiga posisi. Posisi dominan ditempati oleh sebagian kecil anggota yang menerima logo sesuai dengan makna yang diencoding pemerintah, yaitu simbol kedaulatan dan persatuan. Posisi negosiasi muncul pada anggota yang mengakui kualitas profesional logo, tetapi menganggap tampilannya terlalu modern dan kurang dekat dengan selera masyarakat. Posisi oposisi menjadi yang paling dominan, ditandai dengan penolakan melalui humor, meme, dan pemaknaan negatif terhadap logo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan resepsi dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu tingkat pemahaman visual, kondisi sosial-ekonomi anggota, serta pengaruh interaksi dan budaya partisipatif dalam grup.