Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi krisis yang digunakan oleh PT. Cendana Perkasa Utama dalam menangani keluhan Shopee Express akibat bencana alam banjir dan longsor di Aceh yang menyebabkan terhambatnya distribusi logistik, terdamparnya armada, serta penjarahan muatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi dengan informan kunci yang terdiri dari pimpinan perusahaan, manajer HRGA, staf operasional lapangan, serta perwakilan Shopee Express. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Cendana Perkasa Utama menerapkan empat strategi komunikasi krisis berdasarkan Situational Crisis Communication Theory (SCCT). penyampaian informasi awal dilakukan dengan memberikan pemberitahuan pertama kepada Shopee Express terkait kejadian di lapangan, disertai pembaruan informasi secara bertahap sesuai dengan perkembangan kondisi di lokasi terdampak. Selain itu, perusahaan juga menyesuaikan komunikasi dengan menunjukkan sikap terbuka, responsif, dan empati terhadap klien guna meredam kekhawatiran serta menjaga hubungan kerja sama selama krisis berlangsung. Selanjutnya, strategi diminish digunakan dengan menjelaskan bahwa krisis dipicu oleh faktor eksternal berupa bencana alam tanpa mengingkari dampak yang ditimbulkan. Strategi rebuild diterapkan melalui tindakan nyata seperti pengurusan laporan kepolisian dan klaim asuransi guna memulihkan kepercayaan klien, yang diperkuat dengan pendekatan bolstering. Temuan ini menunjukkan bahwa konsistensi strategi komunikasi krisis berperan penting dalam menjaga kepercayaan dan hubungan kerja sama B2B pascakrisis.