Standar kecantikan dalam masyarakat berkembang melalui proses komunikasi yang sarat dengan nilai sosial, budaya, dan relasi gender, di mana perempuan kerap dihadapkan pada tuntutan penampilan tertentu. Salah satu praktik yang mencerminkan hal tersebut adalah rhinoplasty sebagai upaya modifikasi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang dilekatkan pada perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perempuan milenial memaknai kecantikan setelah menjalani rhinoplasty melalui pengalaman komunikasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan merujuk pada teori fenomenologi Maurice Merleau-Ponty. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menjalani rhinoplasty, informan mengalami pengalaman komunikasi yang ditandai oleh perasaan tidak percaya diri, kecemasan, serta proses pertimbangan yang berlangsung melalui komunikasi intrapersonal dan interpersonal dengan dokter, keluarga, dan teman. Pengalaman tersebut berlangsung dalam konteks komunikasi gender yang menempatkan tubuh perempuan sebagai objek penilaian sosial. Setelah rhinoplasty, pengalaman komunikasi informan berlanjut dalam interaksi sehari-hari, ditandai oleh respons sosial berupa pujian maupun komentar negatif, serta perubahan cara memaknai tubuh dan diri. Ketiga informan memaknai kecantikan sebagai perpaduan antara penampilan yang terawat, perilaku yang baik, energi positif, dan rasa percaya diri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rhinoplasty dimaknai tidak hanya sebagai perubahan fisik, tetapi sebagai pengalaman komunikasi yang berlangsung dalam relasi gender, yang membentuk cara perempuan milenial menghayati tubuh, membangun kepercayaan diri, serta memahami kecantikan melalui interaksi dengan norma dan standar kecantikan di lingkungan sosialnya.