Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Tempo.co dan MediaIndonesia.com membingkai pemberitaan mengenai pengibaran bendera One piece sebagai bentuk kritik sosial terhadap pemerintah. Fenomena ini menjadi perhatian publik karena memunculkan respons aparat dan pejabat negara yang memicu perdebatan mengenai kebebasan berekspresi di ruang publik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing model Robert N. Entman yang meliputi define problems, diagnose causes, make moral judgement, dan treatment recommendation. Objek penelitian berupa artikel berita yang dipublikasikan kedua media pada 4 Agustus 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tempo.co membingkai peristiwa tersebut dengan menekankan pada respons pemerintah dan aparat terhadap ekspresi kritik masyarakat, sehingga isu dipahami dalam konteks relasi antara negara dan warga. Sementara itu, MediaIndonesia.com membingkai peristiwa dalam perspektif kebebasan berekspresi dan kepatuhan terhadap hukum serta hak asasi manusia, dengan menekankan legalitas tindakan negara. Perbedaan pembingkaian ini menunjukkan adanya variasi pemaknaan yang dipengaruhi oleh fokus isu, pemilihan narasumber, serta orientasi redaksional masing-masing media. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa framing media memiliki implikasi terhadap cara publik memahami makna kritik sosial di ruang publik. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemahaman publik melalui penonjolan aspek tertentu dari realitas peristiwa.