Penelitian ini mengkaji strategi komunikasi krisis yang diterapkan PT. Albin Tour and Travel dalam menangani kegagalan keberangkatan 85 jamaah haji non-kuota pada tahun 2025, yang dipicu oleh penutupan visa Mujamalah atau Furoda dan sistem Nusuk oleh Pemerintah Arab Saudi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif studi kasus dengan triangulasi data dari wawancara mendalam terhadap direktur, staf manajemen visa, dan jamaah terdampak, serta analisis dokumen dan observasi, penelitian ini berfokus pada fase chronic dan resolution model krisis Steven Fink (1986). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi krisis bersifat sistematis, transparan, dan empatik, melalui saluran lisan langsung (grup WhatsApp, telepon, pertemuan tatap muka), dengan narasi utama membingkai krisis sebagai faktor eksternal, solusi penjadwalan ulang ke 2026 tanpa refund penuh (dengan potongan administrasi sesuai kontrak), serta pendekatan spiritual untuk meredam kekecewaan jamaah.