Kekerasan seksual terhadap anak merupakan peristiwa traumatis yang berdampak kompleks terhadap perkembangan psikologis anak, khususnya pada usia sekolah dasar. Proses pendampingan anak korban kekerasan seksual menuntut kehadiran empatik dari pendamping, namun empati yang tidak dikelola secara tepat berpotensi memicu retraumatisasi dan meningkatkan tekanan emosional anak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pendamping anak korban kekerasan seksual memaknai dan menerapkan Trauma-Sensitive Empathy (TSE) dalam kerangka Trauma-Informed Care (TIC) di Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pendamping anak korban kekerasan seksual, yang terdiri dari psikolog klinis dan pendamping kelembagaan di Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati pendamping diwujudkan secara sadar, terkelola, dan berorientasi pada keselamatan psikologis anak, yang tercermin dalam kesadaran terhadap risiko retraumatisasi, regulasi emosi pendamping, serta penggunaan pendekatan empatik non-konfrontatif. Temuan ini menegaskan bahwa Trauma-Sensitive Empathy merupakan praktik empati profesional yang selaras dengan prinsip Trauma-Informed Care dan berperan penting dalam pendampingan anak korban kekerasan seksual.