Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung pemenuhan kebutuhan psikologis dasar dan bagaimana pengalaman fatherless memengaruhi proses pemenuhan ketiga kebutuhan dasar. Fenomena fatherless dapat terjadi karena ketidakhadiran ayah secara fisik maupun emosional, yang dalam hal ini dapat memengaruhi individu untuk memenuhi kebutuhan psikologis dasarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis deskriptif. Subjek penelitian adalah dua orang mahasiswi yang mengalami kondisi fatherless. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumetasi, kemudian dianalisis dengan metode yang dikembangkan Colaizzi meliputi membaca dan memahami hasil wawancara, menandai pernyataan yang penting, memberikan makna dari bagian penting, menyusun dan mengelompokkan makna menjadi sebuah tema, menyusun deskripsi tentang pengalaman subjek, merangkum esensi dari pengalaman subjek dan memvalidasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses Self-determination berlangsung dengan penuh tantangan, yang ditandai dengan munculnya kepercayaan yang rapuh terhadap hubungan interpersonal, bimbang, insecure dan kemandirian yang muncul karena tuntutan keadaan. Faktor yang mendukung Self-determination meliputi support system dan refleksi diri. Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah refleksi diri sebagai unsur utama dalam memaknai pengalaman yang dialami individu. Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada individu dewasa yang mengalami fatherless agar selalu menyayangi diri sendiri dan percaya bahwa setiap pengalaman dalam hidup membawa makna dan pembelajaran tersendiri. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas jumlah partisipan dan menggunakan pendekatan wawancara yang lebih terstruktur agar memperoleh data yang lebih kaya serta mendalam.